Senin, 07 April 2008

Discovery-Driven Planning (part 1)

Marilah kita perhatikan beberapa kasus pada contoh di bawah ini :

  • Walt Disney kehilangan US$ 1 Bn di EuroDisney dalam dua tahun
  • FedEx investasi $600M di Zapmail (fax printing dan dilevery service) sebelum akhirnya jatuh
  • Polaroid invest $200M di instant movie
  • SwissAir hancur pada saat balance sheet-nya sedang kuat karena nasehat yang salah untuk membangun airline alliance dengan kepemilikan sendiri.
  • Swedia dan Denmark membangun jembatan sepanjang 17 km untuk menghubungkan dua negara. Jembatan ini hanya dilalui kendaraan sangat sedikit di bandingkan biaya pembangunannya yang sangat besar.

Beberapa contoh diatas dapat di katakan gagal, mengapa demikian ? apakah perusahaan sekelas Disney gagal untuk memprediksi bisnisnya?

Contoh-contoh diatas adalah suatu rencana (planning) yang berdasarkan pada platform-based (traditional). Usaha dikembangkan berdasarkan pengalaman pada usaha yang telah ada dan diimplementasikan pada lokasi/bisnis yang berbeda.

Kegagalan sebagian besar dikarenakan menggunakan Traditional (Platform-based) Planning, yang memiliki paradigma :

  • Membuat suatu asumsi, elaborate profit model, iterasi, lalu invest, invest, invest.
  • Setelah itu melakukan verifikasi hasil yang di capai
  • Memastikan peningkatan commitment seperti yang diharapkan.
Escalation of commitment :
Konsep -> asumsi -> projek -> investasi -> pembangunan -> verifikasi

Suatu Traditional planning hanya akan berjalan dengan baik bila di implemtasikan pada bisnis yang telah mature, dengan kriteria sebagai berikut :
  • Traditional planning dapat berhasil jika masa depan dapat di ramalkan dengan baik berdasarkan pengalaman masa yang telah lalu. Suatu prediksi diharapkan akurat karena didasarkan pada ilmupengetahuan dari pada asumsi.
  • Pendekatan platform-based sangat mungkin untuk ongoing business, tetapi ini adalah pilihan yang sangat bodoh untuk diimplementasikan pada usaha baru.
  • Platform-based tidak sesuai untuk usaha baru (new venture) karena :
    • Masa depan itu tidak hanya belum pasti tetapi juga tidak diketahui
    • Resiko tinggi dengan menggunakan asumsi yang di jadikan knowledge
    • Platform-based planning memiliki kecenderungan untuk mengubah asumsi yang belum pasti menjadi kebenaran 'semu' pada commitment escalate.

Hindarilah beberapa asumsi berbahaya sebagai berikut untuk digunakan baik dalam traditional planning maupun pada Discovery-driven planning :
  1. Customer akan membeli produk kita karena kita pikir ini adalah produk yang bagus.
  2. Customer akan membeli produk kita karena produk ini menggunakan teknologi terkini/superior
  3. Customer akan sepakat dengan persepsi kita bahwa produk ini sangat baik
  4. customer tidak memiliki resiko jika membeli produk kita untuk menggantikan produk dari supplier lamanya.
  5. Pruduk akan terjual dengan sendirinya
  6. Distributor tidak akan mensupport produk
  7. Kita dapat mendevelop produk tepat waktu dan sesuai budget
  8. Kita tidak akan mendapat masalah untuk mencari staf yang baik/tepat
  9. Kompetiotor akan merespon secara normal
  10. Kita dapat membedakan (membuat jadi beda) produk kita dengan kompetitor
  11. Kita akan dapat menurunkan harga ketika meningkatkan sharesecepatnya
  12. Seluruh perusahaan kita akan dengan senang hati mensupport strategi kita dan membantu seperti yang kita inginkan

Marilah sekarang kita lihat perbedaan dari Traditional Planning dan Discovery Driven Planning.

Paradigma Traditional planning dan control :
  • pattern di ketahui
  • Replikasi
  • Aksi dan Reaksi
  • Berdasarkan pengalaman
  • “History repeat it self”
  • pemikiran yang menyempit (convergence thinking)




Discovery Driven Planning
  • membuat masa depan
  • membuat suatu realitas baru
  • “History should not repeat”
  • pemikiran yang berkembang (divergence thinking)



(bersambung)

Tidak ada komentar: